Kesehatan Reproduksi

Jangan Ditahan! Ini 5 Akibat Menahan Kencing

Pernahkah kamu harus buang air kecil saat sedang berada di tempat umum? Saat kamu tiba di kamar kecil, kamu langsung mengurungkan niat kencing karena kondisi toilet yang tak sesuai keinginanmu. Alhasil, kamu jadi menahan pipis selama berada di luar rumah.

Menahan kencing itu boleh dilakukan, tetapi hanya jika kamu terpaksa. Sebaiknya, kamu tidak boleh menahan pipis terlalu lama dan terlalu sering. Mengapa begitu? Apa alasannya? Inilah 3 akibat menahan kencing yang perlu kamu tahu.

  1. Meningkatkan risiko terkena ISK

ISK adalah kependekan dari infeksi saluran kemih yang terjadi karena bakteri. Orang yang terkena ISK memiliki gejala yang khas. Gejalanya yaitu ingin buang air kecil terus-menerus tanpa henti, mengeluarkan urin yang berwarna keruh, berbau menyengat, dan terkandang mengandung darah, merasa sakit seakan terbakar ketika buang air kecil, hingga merasa nyeri pada panggul.

Menahan kencing tidak langsung menyebabkan ISK. Namun, menahan diri untuk mengeluarkan urin bisa meningkatkan peluang bakteri tinggal dan menetap dalam kandung kemih. Akibatnya, kamu bisa menderita ISK.

Dibanding pria, akibat menahan kencing bagi wanita lebih besar karena wanita hamil berisiko terkena ISK. Karena itulah, sebaiknya ibu hamil tidak menahan kencing. Minum air yang cukup juga disarankan agar kandung kemih cukup penuh dan dapat mengirim sinyal untuk buang air kecil.

  1. Meningkatkan risiko terkena gagal ginjal

Ginjal merupakan organ tubuh yang bertugas menyaring darah dari sisa-sisa metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh. Sisa metabolisme tersebut kemudian dikeluarkan bersama dengan urin.

Kalau kamu tidak mengeluarkan urin, fungsi ginjal jadi terganggu. Orang yang memiliki kandungan mineral tinggi dalam urinnya bisa mengalami batu ginjal jika terlalu lama menahan kencing. Dalam jangka panjang, batu ginjal bisa menyebabkan kegagalan ginjal. Risiko terkena gagal ginjal akan semakin besar jika kamu memiliki beberapa kondisi berikut:

  • Pembesaran prostat yang bisa menyebabkan sulit buang air kecil.
  • Kandung kemih neurogenik, yaitu kondisi terganggunya sistem saraf yang menyebabkan otak tidak dapat mengontrol kandung kemih.
  • Gangguan ginjal
  • Retensi urin, yaitu kondisi ketika kandung kemih tidak bisa sepenuhnya kosong setelah buang air kecil.
  1. Meningkatkan risiko kandung kemih robek

Pada kasus yang sangat parah, akibat menahan kencing terlalu lama adalah kandung kemih robek. Jika kamu menahan pipis, kandung kemih akan menyimpan terlalu banyak urin. Hal itu bisa menyebabkan tekanan menumpuk di kandung kemih sehingga robek.

  1. Muncul rasa sakit ketika buang air kecil

Terlalu sering menghindar dari buang air kecil bisa menyebabkan rasa sakit atau tidak nyaman di kandung kemih atau ginjal. Akibatnya, kamu bisa kesakitan ketika mengeluarkan urin. Bahkan setelah kencing, kamu juga bisa merasakan kram panggul karena otot-otot yang mengepal setelah urin dikeluarkan.

  1. Urin tidak bisa keluar secara normal

Akibat menahan kencing yang terakhir adalah urin tidak bisa keluar secara normal. Hal ini bisa terjadi karena kandung kemih meregang sehingga sulit atau tidak bisa berkontraksi. Padahal, normalnya kandung kemih meregang ketika ada urin dan kembali ke bentuk awal ketika kencing.

Jika kandung kemih meregang terlalu parah, dokter akan mempertimbangkan penggunaan kateter.

Di sisi lain, menahan kencing juga bisa menyebabkan urin keluar terlalu sering. Penyakit akibat menahan kencing ini dinamakan inkontinensia urin. Inkontinensia dapat terjadi karena otot-otot dasar panggul yang melemah. Jika kamu mengalaminya, kamu akan merasa selalu ingin ke toilet, bahkan kamu bisa buang air kecil tanpa sadar ketika bersin atau batuk.

Daripada mendapatkan akibat menahan kencing, lebih baik kamu buang air kecil secara rutin. Urologis menyarankan, buang air kecil sebaiknya dilakukan setiap tiga jam. Bahkan meskipun kamu tidak ingin pipis, sebaiknya kamu tetap ke toilet.Kandung kemih yang sehat mengandung sekitar 400 hingga 500 mililiter urin. Sebelum kandung kemihmu terlalu penuh, lebih baik buang air kecil pada waktu yang telah ditentukan untuk menghindari penyakit akibat menahan kencing.

pembersih kewanitaan yang aman untuk wanita yang belum menikah
Kesehatan Reproduksi

Inilah Pembersih Kewanitaan yang Aman untuk Wanita yang Belum Menikah

Kewanitaan adalah bagian intim yang kebersihannya harus tetap terjaga. Mungkin kamu kebingungan tentang bagaimana membersihkannya. Berikut merupakan pembersih kewanitaan yang aman untuk wanita yang belum menikah!

Apakah Perlu Mencuci Kewanitaan?

Sebenarnya, apakah mencuci kewanitaan adalah sebuah keharusan? Jawabannya bisa ya dan juga tidak. Ya, jika yang kamu maksud adalah membersihkan vulva dan tidak, jika yang kamu maksud adalah membersihkan vagina.

Berdasarkan anatomi dasar, vagina merupakan saluran bagian dalam di dalam tubuhmu, sedangka vulva mengacu pada bagian luar di sekitar vagina, seperti tudung klitoris dan bibir vagina.

Jadi, kamu hanya harus membersihkan vulva karena vagina bisa membersihkan dirinya sendiri dengan menjaga keseimbangan pH yang benar dan membersihkan dirinya sendiri dengan sekresi alami.

Jika kamu membersihkan atau mencuci vagina, maka bisa mengganggu keseimbangan bakteri yang menjaga pH vagina. Jadi, jika ingin vagina bersih, biarkan saja dirinya membersihkan secara individu.

Cara Membersihkan Vulva

Kamu perlu membersihkan vulva dengan mencucinya menggunakan air hangat. Jika perlu, kamu bisa menggunakan sabun lembut yang tidak mengiritasi kulit. Saat mencuci, pastikan hindari air atau sabun masuk ke dalam vagina.

Cara mencuci vulva, yaitu rentangkan bibir vagina dan bersihkan dengan lembut pada sekitar lipatan, bisa menggunakan lap bersih atau tanganmu. Selain mencuci vulva, kamu juga harus mencuci anus dan area antara vulva dan anus setiap hari.

Arah mencuci sekitaran vulva dan anus adalah dimulai dari depan terlebih dahulu, dengan kata lain cuci dulu bagian vulva, kemudian anus. Hal itu dilakukan untuk menghindari penyebaran bakteri dari anus menuju vagina yang bisa menyebabkan infeksi.

Pilih Produk yang Tidak Mengandung 7 Bahan Ini!

Untuk memilih produk pembersih kewanitaan yang aman untuk wanita yang belum menikah, kamu harus memastikan bahwa ingredients pada kemasannya tidak mengandung 7 bahan ini:

  • Sabun: Tidak ramah pH untuk area vulva serta menyebabkan kekeringan dan iritasi.
  • Sulfat: Bertindak sebagai deterjen dan bahan pembusa, sehingga bisa mengiritasi kulit terutama kulit vulva yang halus.
  • Paraben: Biasa digunakan sebagai pengawet buatan dalam kosmetik dan produk perawatan tubuh. Paraben bisa menyebabkan iritasi kulit dan dermatitis kontak pada individu dengan kulit sensitif.
  • Parfum: Biasanya mengandung ratusan bahan kimia. Bahan kimia ini bisa menyebabkan iritasi kulit yang parah dan dapat mengubah pH vulva dan are vagina yang membuat wanita lebih mudah terserang infeksi.
  • Pengawet seperti formaldehida: Bisa mengiritasi area vulva yang halus.
  • Gliserin: Produk gula yang bisa meningkatkan produksi jamur dan membuatmu rentan terhadap infeksi jamur.
  • Pewarna: Bisa mengiritasi kulit vulva yang halus.

Hal Penting Lainnya untuk Menjaga Kebersihan Kewanitaan

Hal penting yang harus kamu ketahui tentang bagaima cara menjaga kebersihan kewanitaan adalah sebagai berikut:

  • Setelah menggunakan toilet, bersihkan area kewanitaan dengan mengusapnya dari arah depan ke belakang.
  • Selalu buang air kecil setelah melakukan seks.
  • Pilih produk pembersih kewanitaan dengan bijak dan tidak mengandung 7 bahan yang telah dijelaskan pada uraian di atas.
  • Kenakan pakaian dalam berbahan katun.
  • Ganti pakaian dalam yang berkeringat atau basah secepatnya.

Itulah beberapa hal yang perlu kamu ketahui tentang pembersih kewanitaan yang aman untuk wanita yang belum menikah. Dengan membaca ini, setidaknya kamu sudah tahu kan teknik yang benar dalam membersihkan area kewanitaan khususnya pada bagian vulva?